Jebakan ‘Doom Spending’: Mengapa Gen Z Memilih Belanja Mewah di Tengah Ancaman Krisis Finansial?
Di tengah lonjakan harga properti yang tak terjangkau dan inflasi yang mencekik, sebuah fenomena psikologi finansial baru bernama “Doom Spending” mulai menjangkiti generasi muda di kota-kota besar dunia, termasuk Jakarta. Alih-alih menabung untuk masa depan yang terlihat suram, banyak Gen Z dan Milenial justru menghabiskan uang mereka untuk barang-barang mewah atau pengalaman instan demi meredakan kecemasan ekonomi. Perilaku ini menjadi paradoks survival: sebuah upaya bertahan hidup secara mental namun destruktif secara finansial yang terjadi sepanjang tahun 2024 hingga awal 2026.

Jadi Apa sih Doom Spending Itu?
Secara teknis, Doom Spending adalah mekanisme pertahanan diri psikologis yang mirip dengan “belanja balas dendam”. Bayangkan Anda sedang berada di kapal yang perlahan bocor. Alih-alih mencoba menambal lubang yang tampak terlalu besar (membeli rumah atau investasi jangka panjang), Anda memilih untuk memakan hidangan terakhir yang paling enak di atas kapal tersebut.
Dalam istilah ekonomi, ini disebut sebagai penurunan marginal utility of saving (kegunaan menabung yang semakin mengecil). Ketika seseorang merasa jumlah tabungan mereka tidak akan pernah cukup untuk mencapai tujuan besar, motivasi untuk menabung hilang sama sekali, dan uang tersebut akhirnya “dibuang” untuk kepuasan jangka pendek.
Data dari laporan Deloitte Global 2024 Gen Z and Millennial Survey menunjukkan bahwa biaya hidup tetap menjadi kekhawatiran nomor satu bagi generasi muda. Di Indonesia, indeks harga konsumen terus mengalami fluktuasi yang membuat daya beli menurun. Namun, statistik retail justru menunjukkan peningkatan konsumsi pada barang tersier seperti kopi premium, konser musik, dan fashion.
Konteksnya jelas: ketika impian memiliki rumah dianggap mustahil oleh lebih dari 60% anak muda, mereka mengalihkan dana “tabungan masa depan” tersebut ke “kebahagiaan masa kini”. Tren teknologi algoritma media sosial juga memperparah kondisi ini, di mana gaya hidup mewah dipasarkan secara masif sebagai standar kebahagiaan.
Dampak Dari Doom Spending itu Lebih Krusial Dari Yang Kamu Pikirkan!
Dampaknya sangat serius terhadap ketahanan finansial individu. Tanpa dana darurat, generasi ini menjadi sangat rentan jika terjadi pemutusan hubungan kerja (PHK) mendadak atau krisis kesehatan. Secara makro, hal ini bisa menyebabkan rendahnya tingkat akumulasi modal nasional yang diperlukan untuk pertumbuhan ekonomi jangka panjang.
Di sisi lain, implikasi terhadap kesehatan mental juga terasa. Setelah euforia belanja hilang, yang tersisa sering kali adalah financial hangover atau rasa bersalah yang mendalam karena melihat saldo rekening yang menipis, menciptakan lingkaran setan kecemasan yang baru.
“Ini adalah bentuk fatalisme ekonomi,” ungkap Rina Safitri, seorang analis perilaku konsumen dalam laporan tahunan perbankan nasional. “Masyarakat muda merasa bahwa sistem ekonomi saat ini tidak lagi bekerja untuk mereka. Akibatnya, mereka berhenti merencanakan masa depan dan hanya fokus pada kelangsungan hidup emosional hari ini.”
Pihak regulator seperti Otoritas Jasa Keuangan (OJK) juga terus menekankan pentingnya literasi finansial agar masyarakat tidak terjebak dalam gaya hidup yang didorong oleh rasa putus asa.
Langkah Untuk Bertahan Hidup di Badai Finansial Ini:
Untuk bertahan hidup di tengah badai finansial ini, diperlukan Mindset Realistis dan langkah konkret:
- Audit Pengeluaran Emosional: Identifikasi apakah Anda belanja karena butuh atau karena sedang merasa cemas/stres.
- Strategi Dana Darurat Mikro: Jangan terbebani dengan target besar. Mulailah menabung dalam jumlah kecil namun konsisten sebagai “pelampung” jika terjadi krisis.
- Batasi Paparan Media Sosial: Kurangi melihat konten yang memicu rasa Fear of Missing Out (FOMO).
- Investasi Keterampilan (Skill): Di era survival, keahlian yang bisa menghasilkan uang jauh lebih berharga daripada barang mewah yang mengalami depresiasi harga.
Doom spending mungkin memberikan kelegaan sesaat, namun ia bukan solusi untuk bertahan hidup dalam jangka panjang. Ketangguhan finansial dimulai ketika kita berani menghadapi kenyataan ekonomi yang pahit dengan perencanaan yang matang, bukan dengan melarikan diri ke kasir toko.
Memahami batas antara menghargai diri sendiri dan merusak masa depan sendiri adalah kunci utama dalam strategi survival masyarakat modern saat ini. Masa depan mungkin terlihat tidak pasti, tetapi memiliki cadangan dana akan selalu lebih baik daripada tidak memiliki apa-apa saat badai benar-benar datang.
